Presiden Prancis Hina Islam, Ini Respon Ustadz di Indonesia

Presiden Prancis Hina Islam – Presiden Prancis Emmanuel Macron dinilai sudah menghina agama Islam. Seorang Ulama asal Indonesia juga ikut bereaksi atas pernyataan dari Presiden Prancis tersebut.

Ustaz yang biasanya disapa dengan UAS ini memberikan reaksi dengan mengunggah Journal Al Azhar dalam bahasa Arab media sosial Instagramnya, @ustadzabdulsomad_official.

SITUS JUDI ONLINE TERBAIK

Dubes Prancis memohon kepada Grand Syaikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayib agar membantunya untuk menghentikan gelombang boikot produk-produk Prancis.

Akan tetapi beliau menolak dan menjawab, “Kami tidak menerima negoisasi terkait kasus penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Macron harus segera meminta maaf kepada umat muslim di Dunia.”

Kata Syaikh Ali Jumah, “Orang yang menghina dan menistakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang dungu anaknya orang dungu dan orang tuanya telah gagal mendidiknya.”

Ucapan Presiden Prancis yang Hina Islam itu berawal pada saat memimpin penghormatan untuk guru Prancis, Samuel Paty. Dalam pidatonya, Macron bersumpah bahwa Prancis ‘tidak akan menghentikan kartun (karikatur)’ dan menyebut sang guru dibunuh ‘karena Islamis yang menginginkan masa depan negara tersebut’.

Macron juga nengatakan akan perang terhadap ‘separatisme Islam’, yang diyakininya telah mengambil alih sejumlah komunitas muslim di Prancis.

Akibat sikap yang dilakukan oleh Macron ternyata menuai kecaman dari sejumlah negara seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Seruan boikot produk Prancis dari sejumlah negara juga menyeruak.

Pemerintah Indonesia mengecam pernyataan Macron. Kemlu telah memanggil Dubes Prancis untuk Indonesia, Olivier Chambard untuk memberi klarifikasi.

Panggilan terhadap Dubes Prancis untuk RI itu dilakukan pada Selasa (27/10/2020). Akan tetapi, Sampai sekarang ini Olivier belum memberikan respons atas kecaman Indonesia akibat sikap Macron.

Kontroversi pernyataan Presiden Prancis yang menghina Islam itu dimulai ketika aktivitas guru sejarah Samuel Paty mengajar sambil menunjukkan gambar Nabi Muhammad di kelas kebebasan berbicara.

Gambar kartun dan karikatur Nabi Muhammad itu dari majalah Prancis, Charlie Hebdo terbitan tahun 2015. Paty akhirnya terbunuh dengan kepala dipenggal. Pelakunya adalah seorang ekstremis asal Chechnya yang berusia 18 tahun.

You may also like...