Kisah cerita seorang mahasiswi Menjadi Korban Kekerasan Oleh Pacar

Kisah cerita seorang mahasiswi menjadi salah satu korban kekerasan oleh kekasihnya sendiri. Korban yang bernama astuti itu sudah melaporkan pria tersebut. Atas tindakan tersebut pria akan di kenakan hukuman oleh pihak berwajib.

Astuti mengalami tindakan kekerasan ini dari bulan Juni 2022. Ketika masih berkomunikasi  kekasihnya masih menjalin hubungan. Cerita tersebut ramai di jadikan pembicaraan oleh warganet di Twitter.

JUDI SLOT ONLINE TERPERCAYA 

Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), ada 10 persen laporan kekerasan yang sudah di laporkan berasal dari hubungan berstatus berpacaran.

Data kekerasan pada perempuan sepanjang 2022 yang sudah di laporkan ke kami itu ada 10.000 jumlah korban kekerasan terhadap perempuan. Ternyata sebanyak 1.151 di antaranya pelakunya melainkan pacar sendiri,” ucap Eni Widiyanti Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan.

Baca juga :Bak Lagu Viral Pria Nikahi Gadis Depan Rumah ‘Netiten Pacar 5 Langkah’

Eni menambahkan ada beberapa hal yang bisa menjadi salah satu tanda sebagai berikut. Bahwa sebuah hubungan itu sudah berjalan tidak baik dan saling beradu omongan kasar. Salah satunya adalah tindakan posesif berlebihan yang di lakukan oleh kekasih.

Posesif misalnya perempuan tidak boleh mempunyai teman laki-laki lain. Kemudian akun medsosnya di lihatin terus menerus, kalau ada nama laki-laki jadi temannya minta langsung minta suruh untuk di blokir.

Hal tersebut bisa menjadi contoh sebuah hubungan yang tidak baik. Sehingga untuk kedepannya kejadian itu bisa saja berakibat fatal sehingga mengakibatkan kekerasan dalam hubungan.

Sosok orang tua menjadi hal berperan besar dalam pencegahan kekerasan dalam hubungan anaknya. Bukan menjadi peneybab alasan, banyak sekali kejadian anak yang tidak ingin terbuka soal masalah sedang di hadapi kepada orang tuanya, Ujarnya.

Hal ini sering terjadi karena pola asuh orang tua yang terkadang terlalu menghakimi anak hingga tidak saling terbuka satu sama lain.

Contohnya misal punya anak perempuan lagi deket dengan cowo, kalau orangtuanya galak, pasti anak nggak mau menceritakan kejadian tersebut. Kemudian lingkungan di luar keluarga juga harus di buat seharmonis mungkin. Agar supaya anak bisa saling terbuka dan tercegah dari hubungan toxic yang mungkin di lakukan oleh pacar maupun calonnya,” pungkasnya.

Kisah cerita seorang mahasiswi Menjadi Korban Kekerasan Oleh Pacar

You may also like...