Riwayat Nisan Penis, Warisan Masa Islam Kuno di Nusantara

Nisan Penis, Warisan Masa Islam Kuno di Nusantara

Nisan Penis – Sekitar tiga tahun yang lalu, warga Tanah Datar, Sumatra Barat, dihebohkan pada saat ditemukan batu setinggi 1,5 meter berbentuk alat kelamin laki-laki di satu lahan pekuburan yang di perkirakan sudah cukup tua.

Batu tersebut terletak tidak jauh dari pusat kota, hanya berjarak sekitar 33 km, tepatnya berada di bukit kecil pada ketinggian 556 mdpl.

JUDI SLOT ONLINE TERPERCAYA

Menurut beberapa laporan yang ada, Staf Kelompok Kerja Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi BPCB Sumatera Barat, Dody Chandra, menjelaskan bahwa batu berbentuk phallus itu merupakan nisan makam kuno.

Menurut beberapa penelitian, nisan phallus memang cukup sering digunakan pada masa Islam kuno di Sumatera Barat. Lokasi penemuan nisan phallus itu sendiri berada di area pemakaman Suku Piliang (Dt. Marajo).

Menurut Dody, sampai sekarang tradisi nisan phallus sebenarnya masih dipraktikkan, seperti di daerah Talago Gunuang, Kenagarian Saruaso.

Dosen Antropologi Universitas Gadjah Mada, Pande Made Kutanegara, menjelaskan bahwa pahatan berbentuk phallus sebenarnya sudah ada sejak zaman megalitikum. Masyarakat megalitikum percaya bahwa phallus merupakan lambang kekuatan dan kesuburan.

“Secara etnografi, konsep seperti itu ada di beberapa belahan dunia, bukan hanya di Indonesia saja. Simbol kekuatan atau kesuburan itu sangat penting bagi masyarakat megalitikum karena mereka sangat dekat dengan alam,” ucap Pande.

Ia mengatakan bahwa penampakan phallus akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Setiap generasi punya interpretasi bentuk fisik tersendiri terhadap patung phallus.

Baca Juga : Eksekusi Mati Pada Pemerintahan Donald Trump Sering Terjadi di AS

Pada zaman megalitikum, orang memang biasa merepresentasikan phallus dalam bentuk patung. Namun di masa Islam kuno, masyarakat lebih mewujudkannya dalam bentuk nisan.

Hal ini juga dijelaskan pada jurnal bertajuk Makna dan Fungsi Simbol Seks dalam Ritus Kesuburan Masa Majapahit karya M. Dwi Cahyo. Pada masa Hindu-Budha di Indonesia, phallus yang dikenal dengan nama lingga ditampilkan dalam berbagai bentuk.

Ada yang ditampilkan secara simbol seperti arca berbentuk tabung atau obelisk. Ada pula yang ditampilkan secara ikon berbentuk penis, seperti pada arca dan relief yang ada di CandiSukuh,Karanganyar, Jawa Tengah.

Pada masa perkembangan Islam di Indonesia, pembentukan phallus berubah menjadi nisan. Makam dengan nisan phallus menandakan bahwa jenazah yang dimakamkan berjenis kelamin pria. Biasanya, nisan phallus hanya dipasang di makam seorang tokoh.

“Ini hal yang cukup wajar. Memang tidak semua orang yang meninggal dibuatkan nisan seperti itu karena menjadi spesial. Kalau orang tertentu saja yang dibuatkan, jelas akan menjadi spesial,” kata Pande.

M. Dwi Cahyo juga menjelaskan bahwa Nisan Penis terdapat pada makam Islam di Jeneponto (Sulawesi Selatan), Bima (Nusa Tenggara Barat), Riau, Kalimantan Timur, dan Makam Tajug (Serpong). Nisan phallus juga terdapat di Kompleks Makam Mattakko, Maros, Sulawesi Selatan.

Berdasarkan jurnal bertajuk Unsur Budaya Prasejarah dan Tipo-Kronologi Nisan di Kompleks Makam Mattakko, Maros, Sulawesi Selatan, setidaknya ada enam dari 40 nisan di pemakaman itu yang berbentuk phallus.

Penjelasan serupa juga tertuang dalam buku bertajuk Monumen Islam di Sulawesi Selatan yang menyatakan bahwa setiap bentuk nisan memiliki makna dan dikhususkan pada orang tertentu. Nisan berbentuk phallus dikhususkan untuk jenazah laki-laki yang merupakan tokoh adat.

“Ini sebenarnya hal yang lumrah bagi masyarakat tradisional masa lalu secara luas. Lambang phallus yang merupakan alat kelamin ini menjadi penting karena bermakna kesuburan dan bukan hal yang porno. Namun, sekarang perspektif masyarakat sudah berubah sehingga tidak begitu lagi,” kata Pande.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *